LURIK

Berasal dari akar kata "rik" yang berarti pagar atau dimaknai sebagai pelindung bagi pemakainya. Karena dalam lurik ini mengandung filosofi yang membedakan lurik dengan kain tekstil pada umumnya. Lurik adalah sebuah proses produk budaya, dimana dari setiap motif yang terlahir tersirat beragam makna.

Dahulu orang membuat lurik didahului dengan berbagai macam ritual, dengan maksud agar lurik yang tercipta sesuai dengan maknanya, yakni sebuah harapan dari para pengrajin berupa doa agar lurik yang dikenakan mampu menjadi pelindung bagi setiap pemakainya.

Dari mulai proses awal sudah terdapat ritual doa, dilanjutkan dengan proses menenun yang melibatkan jiwa dari para pengrajin, maka tak heran jika lurik adalah sebuah karya yang terlahir yang melibatkan proses jiwa, maka tak heran jika dikenakan pun akan melekat sampai ke dalam jiwa pemakainya.

Melihat lurik bukan sekedar melihat kain tekstil, akan tetapi melihat lurik adalah melihat proses produk budaya yang patut untuk dilestarikan.

Gunakan yang tradisional, karena didalamnya sarat akan makna. Menggunakan yang tradisional adalah bagian dari kita untuk turut serta melestarikan budaya bangsa.


 

"LURIK itu ya tradisional. Kalau pakai mesin ya tekstil namanya. Karena dalam Lurik itu mengandung makna dan filosofi. Lurik itu berasal dari kata rik yang berarti garis atau pagar yang merupakan harapan dan doa dari para pengrajin agar lurik ini bisa menjadi pelindung bagi pemakainya. Yang namanya mesin itu tidak bisa berdoa. Yang bisa berdoa ya hanya jiwa dan ruh manusia."

(Jose Rijal)