DIBYO

 

Makna Motif Lurik

Kain Lurik yang merupakan warisan budaya adiluhung dahulunya dibuat dengan berbagai macam motif yang tentunya sarat dan kental akan sebuah makna tertentu. Dari segi mulai perencanaan pembuatan yang dahulunya sangat kental dengan upacara-upacara adat, kemudian proses menenun, sampai hasilnya ada suatu makna tertentu yang di situ merupakan sebuah simbol pengharapan akan suatu filosofi tertentu. Berikut akan kami paparkan beberapa contoh motif lurik beserta maknanya;

Motif telupat

Motif telupat berasal dari bahasa Jawa telu (tiga) dan papat (empat), adalah motif lajuran yang berjumlah tujuh, terdiri dari satu satuan kelompok dengan empat lajur, dan yang satu lagi dengan jumlah tiga lajur. Angka tujuh merupakan angka keramat, yang dalam kepercayaan tradisional Jawa, kejawen, melambangkan kehidupan dan kemakmuran.

Menurut asal usulnya, konon motif ini diciptakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I. Beliau memilih perbandingan kedua satuan kelompok tersebut dengan perbandingan 3 : 4 daripada 1 : 6 atau perbandingan 2 : 5, karena kecuali serasi untuk dipandang mata, juga mengandung makna falsafah. Perbandingan 3 : 4 tidak terlalu mencolok, tidak jauh bahkan berdekatan, dibanding dengan perbandingan lainnya. Makna yang terkandung adalah bahwa seseorang yang lebih besar (bukan dalam arti harfiah) seperti umpamanya raja atau penguasa, harus dekat dengan rakyatnya serta harus merupakan pemberi kemakmuran dan kesejahteraan serta pengayom pada rakyatnya.

Motif Udan Liris

Udan liris berarti hujan gerimis. Karena hujan mempunyai konotasi mendatangkan kesuburan, maka motif ini merupakan lambang kesuburan dan kesejahteraan. Oleh sebab itu pula, motif udan liris merupakan salah satu motif yang dipakai penguasa, dengan harapan agar si pemakai diberkati oleh Yang Maha Kuasa membawa kesejahteraan bagi para pengikutnya.

Motif Sapit Urang

Motif sapit urang yang berarti sapit udang adalah ungkapan simbolis suatu siasat berperang, yaitu dimana musuh dikelilingi atau dikepung dari samping dan kekuatan, komando penyerang berada ditengah-tengah.

(Jussy Rizal, 28 Maret 2012)

(Sumber: Lurik, Garis-Garis Bertuah; Nian S. Djoemena)