DIBYO

 

Tips Mengenali dan Merawat Kain Lurik

Kain Lurik dengan ciri khas motif garis sekarang ini banyak dijumpai di pasaran. Namun, kita perlu tahu dan lebih mengenal kain lurik yang mempunyai kualitas bagus. Lurik yang masih asli dikerjakan secara tradisional menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Berikut beberapa tips untuk lebih mengenali kain lurik dengan kualitas bagus yang dibuat secara tradisional menggunakan ATBM:

1. Lihat permukaan dua sisi kain lurik. Kain lurik tenun asli dua sisi permukaan bolak-baliknya sama. Hal ini dikarenakan proses pewarnaan pada kain tenun lurik dimulai dari benang. Jika satu permukaan warnanya dijumpai tidak sama (atau berwarna putih), maka sudah bisa dipastikan itu kain hasil printing mesin yang bermotif serupa lurik.

2. Terawanglah kain lurik, maka akan bisa dilihat kerapatan benang pada kain tersebut. Kain lurik yang dikerjakan dengan tenun secara tradisional, maka kerapatan benangnya tidak sama. Hal ini dikarenakan tenaga manusia yang kurang bisa konsisten seperti halnya mesin. Ada kalanya tenaga manusia kuat saat menenun, ada kalanya pula lemah karena kondisi capai dalam menenun. Hal ini berdampak pada kerapatan benang yang dihentakkan pada saat menenun.

3. Periksalah tepi kain lurik tersebut. Kain lurik yang dikerjakan secara tradisional cenderung kurang rapi. Berbeda halnya dengan yang dikerjakan dengan mesin yang sudah ada tambahan alat untuk merapikan tepi kain.

4. Kain tenun memiliki ciri susut pada saat pertama kali kena rendam air. Maka sebaiknya kain lurik direndam terlebih dahulu sebelum dijahit. Kain lurik yang kualitas bagus memiliki ciri susutnya sedikit ketika direndam, yakni penyusutan 2-5 cm per meternya. Maka ketika memilih kain lurik, pilihlah kain lurik yang mempunyai kerenggangan/kerapatan benang yang lebih rapat supaya sedikit penyusutannya ketika dicuci untuk pertama kali.

5. Kain lurik mungkin terkesan kaku ketika masih baru. Namun, sebenanrnya itu lebih berkualitas karena kerapatan benangnya lebih rapat. Setelah kemudian dicuci, maka kain lurik yang kaku tersebut nantinya akan lebih lembut.

6. Untuk kain lurik yang menggunakan pewarna alami, maka sebaiknya dicuci menggunakan lerak untuk menjaga kualitas warna. Namun, untuk yang menggunakan pewarna sintetis bisa dicuci menggunakan deterjen. Yang perlu diperhatikan adalah sebaiknya saat menjemur hindari terkena sinar matahari secara langsung atau cukup diangin-anginkan.

Demikian apa yang bisa kami tulis dengan harapan supaya kita bisa lebih mengenal lurik. Kain lurik yang dibuat secara tradisional mungkin terkesan kurang bagus atau ketinggalan, namun disitulah  sebenarnya kita akan menemukan nilai lebih. Kita akan bangga jika mengenakan pakaian yang itu dibuat secara handmade sebagai bentuk pelestarian terhadap tradisi dan warisan budaya luhur bangsa.

(Jussy Rizal, 23 Juni 2012)