DIBYO

 

LURIK, Mengapa Harus Yang Tradisional

Mengakar dari asal kata bahasa “rik” yang berarti pagar atau pelindung, Lurik memiliki nilai filosofi sebuah pengharapan, berupa doa-doa yang diselipkan oleh para pengrajin tenun agar kain tenun yang dihasilkan mampu menjadi berkah dan pelindung bagi pemakainya. Dari nilai filosofi itulah, mengapa Lurik harus dipertahankan bersama proses tenunnya yang tradisional menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).

“Bukankah yang hanya bisa berdoa itu hanyalah ruh dan tangan manusia. Mesin itu tidak punya nyawa, tidak mampu berdoa. Tidak akan pernah menghasilkan Lurik yang memang hasil dari pengharapan doa manusia.”

Tenun Lurik berkembang dari mulai jaman kerajaan, kolonial Belanda, hingga jaman kemerdekaan yang masih banyak ditemui pada era tahun 1970an, dimana pada masa itu masih banyak dijumpai para pengrajin tenun ATBM. Memasuki tahun 1990an para pengrajin mulai gulung tikar. Alasan yang sering diungkapkan para pengrajin yakni kain Lurik mereka sudah mulai tidak laku di pasar. Kain tenun Lurik yang mereka hasilkan  terlibas dengan produk-produk kain tekstil yang dihasilkan oleh Alat Tenun Mesin yang produknya dilempar ke pasar dengan harga yang lebih murah.

Kondisi itu terus terjadi hingga akhir-akhir tahun sekarang ini. Situasi dimana orang banyak melirik ke kain tradisional, baik batik maupun tenun, mereka manfaatkan dengan meluncurkan kain-kain tekstil bermotif Lurik yang mereka hasilkan menggunakan Alat Tenun Mesin. Lagi-lagi para pengrajin kecil yang menjadi korbannya. Mereka kini semakin tidak mampu lagi untuk melempar produk kain Lurik Tradisional karena terlibas dengan produk kain tekstil.

Beberapa cara mencoba dilakukan baik dari para pecinta tenun maupun pemerintah. Mulai dari mengeluarkan kebijakan, maupun program-program untuk pelestarian. Kebijakan yang cukup populer yakni dicetuskannya kain Lurik menjadi seragam bagi PNS di beberapa daerah. Sebuah niatan baik, kebijakan yang baik dan begitu antusias disambut para pengrajin kecil. Namun, apalah daya, bukannya berbuah manis. Keadaan justru sebaliknya, para pengrajin kecil semakin tenggelam. Momen banyaknya orang mencari kain Lurik ini dimanfaatkan oleh para pengusaha Alat Tenun Mesin, bahkan yang sebelumnya tidak memproduksi Lurik kini mereka menjadi produksi kain Lurik hasil dari Alat Tenun Mesin mereka. Alhasil, para pengrajin kecil yang sebagian besar memang tinggal di pedesaan kesulitan untuk bernafas atas usaha mereka.

Kini, yang ada hanyalah mencoba bertahan. Mereka para pengrajin tenun di pedesaan hanya bisa pasrah dan berdoa. Menunggu para pemangku kebijakan, para pecinta tenun dan kain tradisonal, untuk mari kita gunakan lagi yang tradisional. Memakai yang tradisonal bukanlah simbol ketinggalan jaman, namun ini adalah tentang nilai, tentang melestarikan tradisi, tentang mencintai produk budaya, dan tentang kepedulian, untuk sekedar membantu mereka mencoba bertahan, untuk menyambung nafas kehidupan.

(Jussy Rizal, 06 Maret 2017)