DIBYO

 

Lurik, Indigo, dan Religiusitas

(Jussy Rizal, 08 Maret 2017)

 

Penggunaan pewarna alami, khusunya indigo mulai mengalami pergeseran pada tahun 1800an setelah ditemukannya pewarna sintetis untuk tekstil. Bahkan pada tahun 1914 konsumsi alam indigo di dunia mengalami penurunan drastis hanya tinggal menyisakan 4%.

Indigo merupakan jenis pewarna alami yang menghasilkan warna biru, berasal dari tanaman marga Indigofera yang tersebar di berbagai belahan dunia khususnya daerah tropika meliputi Asia, Afrika, dan Amerika yang secara keseluruhan terdapat kisaran 700 jenis. Untuk di Indonesia sendiri banyak tersebar di daerah Sumatera, Jawa, dan Nusa Tenggara.

Jenis pewarna alami memiliki keunggulan yakni lebih ramah lingkungan. Dalam proses pengerjaannya juga lebih membutuhkan ketelitian dan  kehati-hatian untuk dapat menghasilkan warna dengan kualitas terbaik.

Lurik adalah produk tenun yang sudah ada sejak era di mana segalanya masih alami. Penggunaan pewarna alami adalah sebuah pilihan untuk mengembalikan ruh Lurik ini kembali pada asal muasalnya, pada pakemnya, dan tentunya untuk lebih bisa menyatu lagi dengan alam.

Di Indonesia, perkembangan kain tenun tentunya tak lepas dari pengaruh perdagangan orang-orang Arab yang memang sudah masuk ke Indonesia sejak jaman kerajaan dengan adanya pusat perdagangan di pesisir utara pulau Jawa. Mereka orang-orang Arab berdagang dan juga melakukan penyebaran dakwah Islam seiring dengan munculnya Kerajaan-Kerajaan Islam di Pulau Jawa.

Dari filosofi kain Lurik sendiri yang memang proses pembuatannya mulai dari awal hingga akhir selalu disisipi dengan doa-doa harapan dari para pengrajin, membuat kain tenun lurik ini sejalan dengan konsep dakwah yang diajarkan oleh para Ulama sejak masa Kerajaan. Dalam proses pembuatan lurik, orang-orang dahulu menggunakan pewarna alam, salah satu yang digunakan yakni pewarna Indigo yang menghasilkan warna biru. Dalam proses mewarnai benang, orang dahulu mempercayakan kepada para wanita pilihan yang bersih hatinya, dan sebagian besar yang dipilih untuk mewarnai benang adalah mereka wanita dari keluarga Ulama, yakni Istri atau putri dari seorang Ulama. Tak heran, di halaman rumah para Ulama jaman dahulu sering kali dijumpai pohon Indigofera, yaitu pohon yang dijadikan bahan pewarna alami Indigo.

Saat ini, napak tilas dari ladang Indigo bisa dijumpai salah satunya yaitu di kota Sukoharjo. Di daerah ini dahulu adalah ladang Indigo luas yang terdapat tujuh buah sumur yang digunakan untuk mengairi ladang. Di sini pula terdapat petilasan sebuah pabrik tenun. Untuk sumur-sumurnya sampai saat ini masih bisa dijumpai hanya tersisa tiga buah sumur ladang, namun untuk pabrik tenunnya kini sudah rata dengan tanah hanya meninggalkan sisa-sisa cerita dari masyarakat setempat.