DIBYO

 

Kain Lurik asli Indonesia

Kain Lurik asli Indonesia

oleh Kiki Septella Sari (April, 2010)

 

Berawal tahu kain Lurik waktu liburan dijogja(april 2010).Dipasar bringharjo, lihat kain yang unik banget.... terus nanya sedikit sama yang jual... ternyata itu namanya kain lurik, berhubung saya tidak bisa liburan lama-lama dijogja... akhirnya cuma bisa dapat informasi sedikit tentang kain lurik, dan tahu sedikit cara membuatnya, akhirnya pulang dari jogja bawa oleh-oleh kain lurik deh... Indonesia memang kaya akan keragaman budayanya,,,,,Disini aku ceritakan sedikit tentang informasi yang aku dapat waktu dijogja...moga-moga membantu bagi yang ingin tahu lebih banyak tentang kain lurik.

Pada awal kemunculannya, pada zaman prasejarah pakaian masih terbuat dari kulit kayu, daun-daunan atau kulit binatang dan fungsinya pun sekedar untuk melindungi tubuh dari cuaca, serangga dan benda-benda tajam. Alat serta Proses pembuatannya pun masih sangat sederhana. Untuk membuat pakaian dari kulit kayu dipilih jenis pohon keras yang mempunyai serat panjang. Kulit kayu direndam dalam air hingga lunak, kemudian dengan alat pemukul berupa batu kulit kayu dipipihkan hingga membentuk kain.

Di Indonesia, bukti-bukti mengenai pembuatan kain menunjukan bahwa kain tradisional sudah ada sejak kurang lebih 3000th lampau. Beberapa peninggalan membuktikan bahwa masyarakat tradisional membuat kain dengan cara menenun sebagaimana terlihat pada situs yang ditemukan di Gilimanuk, Melolo, Sumba Timur, Gunung Wingko, Yogyakarta, dll.. Peninggalannya berupa cap (teraan) tenunan, alat pemintal, kereweng bercap kain tenun dan bahan dengan tenunan kain yang terbuat dari kapas.(Bringharjo shop).

Khusus untuk Jogja dan Solo kain lurik ditenun dengan teknik wareg yang artinya anyaman datar atau polos. Meski jika dilihat dari teknik pengerjaan sederhana, namun sesungguhnya dibutuhkan ketrampilan dan kejelian dalam memadukan warna serta tata susunan kota dan garis yang seras dan seimbang agar menghasilkan kain lurik yang indah dan mengagumkan.

Sebagaimana peninggalan halnya dengan kain tradisional lainnya, lurik juga sarat dengan makna. Lurik tidak dapat dipisahkan dari kepercayaan sehingga keberadaannya selalu mengiringi berbagai upacara ritual adat. Filosofi dan makna lurik tercermin pada motif dan warnanya, ada corak yang dianggap sakral dan memberi tuah, ada yang memberi nasihat, petunjuk dan harapan. Berbagai unsur seperti warna, motif dan terutama kepercayaan yang menyertai kain lurik, membuat nilai lurik menjadi tinggi.

Berbagai penemuan sejarah menunjukan bahwa kain tenun lurik telah ada di jawa sejak zaman pra sejarah. Ini terbukti pada Prasasti peninggalan kerajaan Mataram (851-882 M) yang menunjukkan adanya kain lurik pakan malang. Prasasti Raja Erlangga Jawa Timur tahun 1033 yang menyebutkan bahwa kain tuluh watu adalah salah atu nama kain lurik. Dan juga pemakaian selendang pada arca terracotta asal Trowulan di Jawa Timur dari abad 15 M menunjukkan penggunaan kain lurik pada masa itu.

Adanya tenun di pulau Jawa diperkuat dengan pemakaian tenun pada arca-arca dan relief candi yang tersebar di pulau Jawa.
Daerah persebaran Lurik adalah di Yogyakarta, Solo dan Tuban. Lurik berasal dari bahasa Jawa kuno lorek yang berarti lajur atau garis, belang dapat pula berarti corak. Pada dasarnya lurik memiliki 3 motif dasar, yaitu:
1) motif lajuran dengan corak garis-garis panjang searah sehelai kain
2) motif pakan malang yang memiliki garis-garis searah lebar kain,
3) motif cacahan adalah lurik dengan corak kecil-kecil.

Pada jaman dahulu, kain lurik ditenun menggunakan benang katun yang dipintal dengan tangan dan ditenun menjadi selembar kain dengan alat yang disebut Gedog, alat ini menghasilkan kain dengan lebar 60cm saja. Seiring dengan perkembangan jaman, kain lurik mulai diproduksi menggunakan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) yang lebih modern dan dapat menghasilkan kain dengan lebar 150cm. Proses pemintalan kain katun sudah dilakukan secara moderen, yaitu menggunakan mesin. Salah satu inti yang membuat sebuah kain disebut sebagai kain lurik adalah penggunaan benang katun, sehingga menghasilkan tekstur yang khas pada kain ini.

Sehingga sebuah kain bermotif lurik yang dipintal dari benang polyester, tidak dapat disebut sebagai kain lurik, karena teksturnya yang berbeda dengan kain lurik yang terbuat dari katun.

Karena teksturnya yang khas dan kekuatan kain ini, penggunaan kain lurik tidak terbatas untuk pemakaian sehari-hari seperti pakaian dan kain gendong namun juga digunakan untuk perlengkapan interior. Yang menyenangkan dari kain lurik adalah, meskipun ketika masih baru teksturnya sangat kasar dan kaku, namun ketika telah digunakan beberapa lama, teksturnya berubah menjadi lebih lembut tapi tidak berkurang kekuatannya.

Pada awalnya, kain lurik hanya dibuat dalam dua warna saja, yaitu hitam dan putih dengan corak garis atau kotak, namun kini banyak terdapat kain lurik dengan beragam warna, seperti biru, merah, kuning, coklat dan hijau. Yang membedakan tiap motif adalah susunan warnanya, misalnya 3 warna merah, 4 warna biru dengan bahan dasar hitam. Masing-masing komposisi warna dan garis pada kain lurik memiliki makna tertentu. Seperti kain lurik gedog madu, yang digunakan pada upacara mitoni atau siraman; kemudian ada lagi kain lurik motif lasem yang digunakan untuk perlengkapan pengantin pada jaman dahulu.